Thursday, September 17, 2009

Malaikat Tak bersayap (part IV)

@ @ @

Arneta berjalan kearah jendela kamarnya yang cukup besar itu. Lalu duduk di atas kayu ukiran yang terpasang menempel dengan jendela kamarnya. Kamar yang berada pada lantai 2 rumahnya itu, memang tempat yang paling menyenangkan baginya. Tempat ia menumpahkan segala yang ia rasakan.
Sekarang, pertama kalinya setelah 2 tahun dia positif terserang GBS, cewek mungil itu menangis. Sebuah figura pink terlihat bertengger ditangannya. Figura itu memajang foto 2 orang gadis kecil berusia 8 tahunan. Wajah mereka sangat mirip, bahkan sulit di bedakan. Ya.. itu memang foto Arneta dan saudara kembarnya Arnita. Nita., biasa ia memanggil kakak kembarnya itu. Mereka sangat dekat. Bahkan sampai usia mereka memasuki 7 tahun, tak pernah sekalipun sang Bunda melihat mereka bertengkar. Arnet sangat menyayangi Nita melebihi apapun yang dia punya. Karena Tuhan memang sudah menganugerahi Nita untuk menemani setiap detik di hidupnya, begitu pikirnya. Tapi ternyata tebakannya salah. Tuhan lebih dulu memanggil Nita saat usia mereka 8 tahun. Dengan penyakit yang sama, Nita pergi setelah kurang lebih 1 tahun GBU bersarang di tubuhnya. Arnet masih terlalu kecil saat itu, untuk menyadari betapa berbahayanya penyakit sejenis GBU, sampai sampai mampu merenggut Nita dalam jangka waktu tak lebih dari setahun.
Ia menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua matanya. Baru pertama kali ini ia takut akan satu hal. Kematian. Satu kata yang dulu tak mampu menggoyahkan hatinya untuk tidak menangis. Tapi kini, mengingat hal itu saja mampu membuat hatinya tercabik, hancur, dan tak tersisa bahkan sekepingpun. Perasaan ini mulai ia rasakan, saat ia mengenal Raditya. Seorang cowok yang kini berdiam di hatinya. Entah kenapa, ia begitu tidak ingin meninggalkan cowok dingin itu. Tetapi semuanya harus berakhir nanti. Saat virus penyakit berbahaya itu menjalari organ pernafasannya dan berhenti membuat Arnet tertawa. Bahkan tidak lagi mengizinkan Arnet tetap bernafas.
Awalnya, Arneta memang hanya ingin berniat membantu Raditya agar bisa berjalan dan menemukan semangat hidupnya lagi. Di sisa waktunya yang singkat itu, paling tidak arneta masih bisa melakukan hal yang berguna untuk orang lain. Seorang Raditya. Seorang cowok yang kehilangan semangatnya semenjak sebuah kecelakaan besar merenggut kaki nya, dan merampas dengan paksa orang yang dicintainya. Tapi seiring waktu berjalan, semuanya berubah. Saat Arneta menemukan sosok lain di dalam wajah angkuh Raditya. Saat ia sadar, ia dan Raditya mempunyai tujuan sama untuk meraih kesembuhan. Tapi, harus diakuinya, semuanya bertambah rumit saat Arneta tau bahwa hidupnya memang tak lagi lama. Terlebih, saat sekarang ia menyadari, bahwa Raditya sudah mengunci hatinya, dan membuatnya mencintai seorang Raditya.
“Besok…tanggal 16, dan gue harus ke Amerika. Ninggalin Radit yang udah mulai bisa jalan. Tanpa gue tau apakah saat gue balik nanti gue masih bisa inget dia atau engga. …” ucapnya terdengar menyakitkan. Di inginkan atau tidak, kenyataannya, pasti akan tiba saat di mana virus virus itu menyerang saraf otak Arneta dan saraf saraf pengingatnya. Dan mungkin saat waktu itu tiba, otaknya tak lagi mampu mengingat siapapun, termasuk Raditya.

@ @ @

“Gue pergi dulu ya…?” tanya Arnet halus, yang terdengar di Handphone Raditya. “Maaf ya Net.. gue ngga bisa nganter loe.. soalnya sekarang aja gue masih di rumah sakit.. jam 2 nanti baru boleh balik..” jawab Raditya dengan berat.
“Iya.. ngga papa... Tapi loe jangan nakal yah . Jangn lupa minum obat..”
“Oke deh.. oh ia,, pokoknya nanti waktu loe balik, gue janji bakal ngajarin loe basket.. oke ??
“Hah?? Oh.. iya iya. Dit, udah dulu ya,, pesawat gue udah mau take off nih..”
“Iya.. kabarin gue terus ya Net..”

“Iya..”
Itu adalah kata teakhir dari Arneta sebelum ia menutup telepon genggamnya.

@ @ @

Radit meneguk air dari botol minumnya. Keringatnya terlihat membasahi sebagian baju basketnya. Sudah hampir dua bulan semenjak ia bisa berlari lagi. Semenjak ia bisa bermain basket lagi dan mendapatkan separuh jiwanya lagi.
Tapi malangnya, sebagian jiwa nya yang lain malah lebih memilih pergi. Sebagian jiwanya pergi seiring dengan kepergian Arneta ke Amerika dua bulan yang lalu. Cewek manis itu memang tak kunjung kembali. Dan yang membuat Radit cemas adalah miss komunikasi yang terjadi di antara mereka. Radit mengambil handuknya dan mulai mengelap keringat yang sudah semenjak tadi terus menetes.
Kemudian tangannya bergerak meraih handphone yang ada di dalam tasnya. Foto seorang gadis manis terpajang di wallpaper ponselnya. Cewek itu tersenyum manis sekali. Arneta, arneta, dan arneta yang terus terusan ada di dalam pikiran Radit. Membuat rasa rindunya semakin menjadi jadi. Kemana perginya gadis malaikat itu ??? seorang gadis yang berhasil melelehkan hati sedingin hati Radit. Entah mengapa Radit merasa akan ada sesuatu hari ini. Ini tentang Arneta.
Latihan basket bersama teman teman sekolahnya sudah selesai jam 7 malam tadi. Kini Radit sudah ada di dalam kamarnya. Merebahkan diri di tempat tidur, lalu memandangi kursi roda yang dulu pernah ia pakai selama hampir 2 tahun. Ia memang sengaja menaruh kursi roda itu di kamarnya. Agar ia bisa terus mengingat seberapa besar perjuangan nya untuk bisa berjalan lagi.
Setelah ia selesai mandi, ia malah melanjutkan kegiatan berbaringnya lagi. Radit lebih memilih istirahat ketimbang menyantap makan malam. Tetapi, baru beberapa menit ia merapatkan matanya, sebuah telepon masuk. “Halo.. syapa nih ??” katanya sambil tetap memejamkan mata. Suara yang kedengarannya seperti suara seorang cewek itu malah terdengar tertatwa.
“Lupa ya ??”
“Ar.. Arneta ??”
“Hhhe.. masih inget ??”
“Astaga.. Net, ini beneran elo kan ??”
“Yup. Kenapa ? loe ngga suka ya gue telpon loe ?? atau gue ganggu jam tidur loe ?? soalnya, pagi pagi ini di Amerika pasti kan udah malem banget di Indonesia..”
“Engga.. engga sama sekali.. kemana aja loe ?? ngabarinnya telat banget..”
“Maaf deh.. kan gue di sini sibuk banget..”
“Sibuk..sibuk.. kenapa loe ?? jangan jangan loe tiba tiba jadi artis terus..”
“Engga lah.. gue kan sibuk terapy…”

Entah berapa lama mereka saling bertukar cerita. Betapa bahagianya Radit. Firasat nya ternyata memang benar. Terlebih ketika Arnet bilang, ia akan pulang bulan depan..

@ @ @

“Woi mas.. bengong mulu.. permainan loe ancur banget sih hari ini ?? liat deh tu pelatih, kumisnya sampe rontok gara gara ngomel sama loe.. Eh Dit.. inget dong, loe kan andalan tim ini. Tapi permainan loe mod mod an gitu. Kadang bagus, kadang ancur sampe separah ini…” ucap salah seorang teman satu tim Raditya siang itu. “Ah.. bisa aja loe.. ngga, gue cuma lagi ngga enak badan aja..” jawab Radit sambil tersenyum kecut. Pikirannya sudah entah kemana hari ini. Hari ini sudah lewat 2 bulan semenjak janji Arneta akan pulang. Semenjak itu juga, gadis itu tak pernah lagi memberi kabar. Padahal, dua bulan lagi, ia akan mengikuti pertandingan basket antar SMA sejakarta, dan ia ingin sekali Arnet melihat pertandingannya.

@ @ @

No comments:

Post a Comment

Post a Comment